Emiten IDX yang merilis laporan kuartalan baru, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sisi membaik menyapu seluruh emiten bermutu untuk mencari kandidat; sisi memburuk hanya saham yang sedang dipegang — kabar buruk tentang emiten yang tidak dimiliki tidak menuntut keputusan apa pun. Halaman ini menumpuk: temuan lama tetap tersimpan.
Isinya hanya saham yang sedang dipegang, dan tetap dipantau walau emitennya tidak lolos saringan mutu. Diuji atas 4.969 pengamatan dari 215 emiten (2020–2026), diukur terhadap median pasar di bulan masuk yang sama, dengan asumsi laporannya baru bisa dipakai 60 hari setelah kuartal berakhir:
| berbalik untung | +6,3% | 55% kalahkan pasar |
| laba tumbuh ≥50% | +2,4% | 53% |
| laba turun ≥30% | +4,6% | 55% |
| berbalik rugi | −2,5% | 46% |
Emiten yang labanya turun ≥30% justru mengalahkan pasar, dan positif di setiap tahun yang diuji. Untuk siklikal lebih tajam lagi: +14,1% dan 66% dari 211 kejadian — laba anjlok di tambang dan energi biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan.
Yang agak berdiri sendiri cuma berbalik rugi di non-siklikal (median −4,3%, 44%). Itu pun alasan meninjau ulang, bukan menjual otomatis.
Universe uji = emiten yang hari ini masih bermutu, jadi perusahaan yang benar-benar ambruk tidak ikut terhitung. Bias itu mengangkat semua angka, terutama kelompok kabar buruk — jadi hasil sesungguhnya untuk “berbalik rugi” kemungkinan lebih jelek.
Laba YTD Q2 2026 Rp1.7 T, berbalik dari rugi Rp260.0 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 72%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Utangnya berat (DER 2.87).
Laba YTD Q2 2026 Rp3.0 T, naik 89% dibanding Rp1.6 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 41%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Harganya masih -73% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q2 2026 Rp933.7 M, naik 863% dibanding Rp97.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 75%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Harganya masih -26% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q2 2026 Rp8.6 T, berbalik dari rugi Rp2.4 T pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 12×, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Harganya masih -34% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q2 2026 Rp4.8 T, naik 848% dibanding Rp503.8 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 29%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.87x).
Laba YTD Q2 2026 Rp7.7 M, berbalik dari rugi Rp1.6 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 174%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.00).
Laba YTD Q2 2026 Rp188.0 M, naik 968% dibanding Rp17.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 67%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Utangnya berat (DER 3.06).
Laba YTD Q2 2026 Rp33.7 M, naik 340% dibanding Rp7.7 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 21×, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.49). Tapi harganya sudah +141% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp2.9 T, naik 810% dibanding Rp323.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 20%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.15).
Laba YTD Q2 2026 Rp796.4 M, naik 77% dibanding Rp450.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 6%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.43x).
Laba YTD Q2 2026 Rp351.8 M, naik 206% dibanding Rp114.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 8%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.46). Tapi harganya sudah +240% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.60x).
Laba YTD Q1 2026 Rp2.7 T, berbalik dari rugi Rp2.3 T pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 392×, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Harganya masih -46% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q1 2026 Rp968.5 M, berbalik dari rugi Rp61.1 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 27%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Utangnya berat (DER 2.69).
Laba YTD Q2 2026 Rp638.3 M, berbalik dari rugi Rp25.0 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 109%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Tapi harganya sudah +501% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q1 2026 Rp504.8 M, berbalik dari rugi Rp56.5 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 28%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan.
Laba YTD Q2 2026 Rp480.3 M, berbalik dari rugi Rp74.7 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 66%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Neracanya ringan (DER 0.08). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.52x).
Laba YTD Q2 2026 Rp262.6 M, berbalik dari rugi Rp32.3 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 58%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.43).
Laba YTD Q2 2026 Rp184.7 M, berbalik dari rugi Rp108.8 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 117%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Neracanya ringan (DER 0.44). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.26x).
Laba YTD Q2 2026 Rp159.0 M, berbalik dari rugi Rp1.8 T pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 42%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.41x).
Laba YTD Q2 2026 Rp158.6 M, berbalik dari rugi Rp6.2 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 4%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.20). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.45x).
Laba YTD Q2 2026 Rp150.4 M, berbalik dari rugi Rp16.4 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 68%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.01). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.43x).
Laba YTD Q2 2026 Rp144.3 M, berbalik dari rugi Rp58.5 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 303%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.23). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.29x).
Laba YTD Q2 2026 Rp77.9 M, berbalik dari rugi Rp163.7 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan justru turun 30% — laba naik sementara jualan menyusut biasanya datang dari untung sekali jalan (jual aset, restrukturisasi utang, selisih kurs). Ini yang paling perlu diperiksa di laporannya.
Laba YTD Q2 2026 Rp16.0 M, berbalik dari rugi Rp14.1 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 288%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Neracanya ringan (DER 0.34). Tapi harganya sudah +607% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q1 2026 Rp3.3 M, berbalik dari rugi Rp629.8 jt pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 233%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.01). Tapi harganya sudah +266% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp1.0 M, berbalik dari rugi Rp4.1 M pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 59%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.43). Tapi harganya sudah +488% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp6.4 T, naik 140% dibanding Rp2.7 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 14%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.37x).
Laba YTD Q2 2026 Rp5.3 T, naik 86% dibanding Rp2.9 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 22%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.42). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.95x).
Laba YTD Q2 2026 Rp4.5 T, naik 183% dibanding Rp1.6 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 13%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.23). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.44x).
Laba YTD Q1 2026 Rp4.5 T, naik 24× dibanding Rp187.2 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 11%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.15).
Laba YTD Q2 2026 Rp4.3 T, naik 85% dibanding Rp2.3 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 13%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar.
Laba YTD Q2 2026 Rp4.2 T, naik 97% dibanding Rp2.1 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 3%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.01).
Laba YTD Q2 2026 Rp3.7 T, naik 95% dibanding Rp1.9 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 19%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.28). Harganya masih -28% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q2 2026 Rp3.0 T, naik 25× dibanding Rp117.2 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan justru turun 7% — laba naik sementara jualan menyusut biasanya datang dari untung sekali jalan (jual aset, restrukturisasi utang, selisih kurs). Ini yang paling perlu diperiksa di laporannya. Neracanya ringan (DER 0.00). Tapi harganya sudah +132% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.60x).
Laba YTD Q2 2026 Rp2.7 T, naik 805% dibanding Rp300.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 147%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.11). Tapi harganya sudah +311% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp2.6 T, naik 218% dibanding Rp833.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 8%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.12).
Laba YTD Q2 2026 Rp2.5 T, naik 100% dibanding Rp1.2 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 29%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan.
Laba YTD Q2 2026 Rp1.8 T, naik 336% dibanding Rp413.2 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 33%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.00).
Laba YTD Q2 2026 Rp1.7 T, naik 484% dibanding Rp285.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 78%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.02). Harganya masih -61% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q1 2026 Rp1.5 T, naik 50% dibanding Rp1.0 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan justru turun 1% — laba naik sementara jualan menyusut biasanya datang dari untung sekali jalan (jual aset, restrukturisasi utang, selisih kurs). Ini yang paling perlu diperiksa di laporannya. Neracanya ringan (DER 0.38). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.77x).
Laba YTD Q2 2026 Rp1.4 T, naik 145% dibanding Rp566.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 76%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan.
Laba YTD Q2 2026 Rp1.2 T, naik 175% dibanding Rp433.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 194%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Neracanya ringan (DER 0.07).
Laba YTD Q1 2026 Rp1.1 T, naik 294% dibanding Rp288.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 23%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.99x).
Laba YTD Q2 2026 Rp1.1 T, naik 57% dibanding Rp702.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 6%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.00). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.69x).
Laba YTD Q2 2026 Rp1.0 T, naik 74% dibanding Rp603.8 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 35%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.01).
Laba YTD Q2 2026 Rp1.0 T, naik 204% dibanding Rp333.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 34%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.44).
Laba YTD Q2 2026 Rp1.0 T, naik 787% dibanding Rp114.3 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 94%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Tapi harganya sudah +181% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp782.8 M, naik 59% dibanding Rp492.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan justru turun 3% — laba naik sementara jualan menyusut biasanya datang dari untung sekali jalan (jual aset, restrukturisasi utang, selisih kurs). Ini yang paling perlu diperiksa di laporannya. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Utangnya berat (DER 2.78). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.52x).
Laba YTD Q2 2026 Rp700.0 M, naik 101% dibanding Rp348.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 125%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Tapi harganya sudah +151% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp536.4 M, naik 67% dibanding Rp320.7 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 7%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.12). Harganya masih -39% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q2 2026 Rp516.2 M, naik 112% dibanding Rp243.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 42%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.00).
Laba YTD Q2 2026 Rp446.5 M, naik 51% dibanding Rp295.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 30%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.34).
Laba YTD Q2 2026 Rp441.6 M, naik 54% dibanding Rp286.2 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 29%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan.
Laba YTD Q2 2026 Rp392.9 M, naik 111% dibanding Rp186.3 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 8%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar.
Laba YTD Q2 2026 Rp385.4 M, naik 180% dibanding Rp137.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan justru turun 12% — laba naik sementara jualan menyusut biasanya datang dari untung sekali jalan (jual aset, restrukturisasi utang, selisih kurs). Ini yang paling perlu diperiksa di laporannya. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Neracanya ringan (DER 0.33). Harganya masih -39% setahun, jadi pasar belum menghargainya. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.14x).
Laba YTD Q2 2026 Rp354.3 M, naik 89% dibanding Rp187.4 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 3%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar.
Laba YTD Q2 2026 Rp303.3 M, naik 105% dibanding Rp148.3 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 12%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.08). Tapi harganya sudah +108% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp269.7 M, naik 55% dibanding Rp174.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 23%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.00).
Laba YTD Q2 2026 Rp228.3 M, naik 471% dibanding Rp40.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 13%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.18). Harganya masih -36% setahun, jadi pasar belum menghargainya. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.28x).
Laba YTD Q2 2026 Rp180.6 M, naik 60% dibanding Rp113.2 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan justru turun 6% — laba naik sementara jualan menyusut biasanya datang dari untung sekali jalan (jual aset, restrukturisasi utang, selisih kurs). Ini yang paling perlu diperiksa di laporannya. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Neracanya ringan (DER 0.00). Harganya masih -26% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q2 2026 Rp174.0 M, naik 375% dibanding Rp36.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 26%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.68x).
Laba YTD Q2 2026 Rp170.1 M, naik 81% dibanding Rp94.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 111%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan.
Laba YTD Q2 2026 Rp163.3 M, naik 90% dibanding Rp86.2 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 177%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Tapi harganya sudah +121% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp98.9 M, naik 267% dibanding Rp27.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 20%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.54x).
Laba YTD Q2 2026 Rp89.8 M, naik 516% dibanding Rp14.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 44%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Neracanya ringan (DER 0.17). Harganya masih -45% setahun, jadi pasar belum menghargainya. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.83x).
Laba YTD Q1 2026 Rp89.8 M, naik 87% dibanding Rp47.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan justru turun 11% — laba naik sementara jualan menyusut biasanya datang dari untung sekali jalan (jual aset, restrukturisasi utang, selisih kurs). Ini yang paling perlu diperiksa di laporannya. Neracanya ringan (DER 0.38). Tapi harganya sudah +233% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga. Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.65x).
Laba YTD Q2 2026 Rp66.9 M, naik 603% dibanding Rp9.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 128%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Neracanya ringan (DER 0.00). Tapi harganya sudah +642% setahun — kabar baiknya besar kemungkinan sudah di harga.
Laba YTD Q2 2026 Rp58.8 M, naik 71% dibanding Rp34.3 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan ikut naik 22%, jadi perbaikannya bertumpu pada penjualan — bukan sekadar pos sekali jalan. Harganya masih -52% setahun, jadi pasar belum menghargainya.
Laba YTD Q2 2026 Rp37.1 M, naik 120% dibanding Rp16.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan hampir mendatar (naik 4%), jadi labanya bertambah terutama dari margin atau efisiensi, bukan dari jualan yang membesar. Neracanya ringan (DER 0.02). Diperdagangkan di bawah nilai buku (PBV 0.57x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp89.7 M, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp456.4 jt. Pendapatannya ikut turun 55%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Non-siklikal yang berbalik rugi adalah satu-satunya kelompok yang konsisten tertinggal dalam uji itu (median −4,3%, cuma 44% mengalahkan pasar). Yang ini pantas ditinjau ulang. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.28x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp3.9 T, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp102.0 M. Pendapatan masih naik 130%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Non-siklikal yang berbalik rugi adalah satu-satunya kelompok yang konsisten tertinggal dalam uji itu (median −4,3%, cuma 44% mengalahkan pasar). Yang ini pantas ditinjau ulang. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.45x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp33.7 M, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp25.4 M. Pendapatannya ikut turun 20%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Non-siklikal yang berbalik rugi adalah satu-satunya kelompok yang konsisten tertinggal dalam uji itu (median −4,3%, cuma 44% mengalahkan pasar). Yang ini pantas ditinjau ulang. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.66x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp25.6 M, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp29.7 M. Pendapatannya ikut turun 36%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Sektornya siklikal. Dalam uji 2020–2026, emiten siklikal yang laba YTD-nya turun ≥30% justru mengalahkan pasar +14,1% setahun berikutnya — 66% dari 211 kejadian. Laba anjlok di sini biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.55x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp9.5 M, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp13.9 M. Pendapatan masih turun 3%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Non-siklikal yang berbalik rugi adalah satu-satunya kelompok yang konsisten tertinggal dalam uji itu (median −4,3%, cuma 44% mengalahkan pasar). Yang ini pantas ditinjau ulang. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.34x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp18.6 M, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp44.4 M. Pendapatannya ikut turun 51%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Non-siklikal yang berbalik rugi adalah satu-satunya kelompok yang konsisten tertinggal dalam uji itu (median −4,3%, cuma 44% mengalahkan pasar). Yang ini pantas ditinjau ulang. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.57x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp16.6 M, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp200.5 M. Pendapatannya ikut turun 13%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Non-siklikal yang berbalik rugi adalah satu-satunya kelompok yang konsisten tertinggal dalam uji itu (median −4,3%, cuma 44% mengalahkan pasar). Yang ini pantas ditinjau ulang. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.98x).
Laba YTD Q2 2026 rugi Rp320.6 M, padahal periode yang sama tahun lalu masih untung Rp4.2 T. Pendapatan masih naik 23%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Non-siklikal yang berbalik rugi adalah satu-satunya kelompok yang konsisten tertinggal dalam uji itu (median −4,3%, cuma 44% mengalahkan pasar). Yang ini pantas ditinjau ulang. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.86x).
Laba YTD Q2 2026 Rp14.8 M, turun 89% dari Rp130.4 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 21%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp956.3 M, turun 88% dari Rp8.1 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 15%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Sektornya siklikal. Dalam uji 2020–2026, emiten siklikal yang laba YTD-nya turun ≥30% justru mengalahkan pasar +14,1% setahun berikutnya — 66% dari 211 kejadian. Laba anjlok di sini biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.92x).
Laba YTD Q2 2026 Rp42.3 M, turun 85% dari Rp275.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 14%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp4.9 T, turun 77% dari Rp21.0 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 91%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Sektornya siklikal. Dalam uji 2020–2026, emiten siklikal yang laba YTD-nya turun ≥30% justru mengalahkan pasar +14,1% setahun berikutnya — 66% dari 211 kejadian. Laba anjlok di sini biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan.
Laba YTD Q2 2026 Rp21.2 M, turun 72% dari Rp76.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 12%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Sektornya siklikal. Dalam uji 2020–2026, emiten siklikal yang laba YTD-nya turun ≥30% justru mengalahkan pasar +14,1% setahun berikutnya — 66% dari 211 kejadian. Laba anjlok di sini biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.53x).
Laba YTD Q2 2026 Rp27.1 M, turun 72% dari Rp96.7 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 32%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp1.9 M, turun 71% dari Rp6.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih turun 4%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Sektornya siklikal. Dalam uji 2020–2026, emiten siklikal yang laba YTD-nya turun ≥30% justru mengalahkan pasar +14,1% setahun berikutnya — 66% dari 211 kejadian. Laba anjlok di sini biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.42x).
Laba YTD Q2 2026 Rp12.8 M, turun 69% dari Rp41.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 18%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.22x).
Laba YTD Q2 2026 Rp55.1 M, turun 65% dari Rp156.4 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 22%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.77x).
Laba YTD Q2 2026 Rp3.3 T, turun 63% dari Rp8.9 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 84%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Utangnya berat (DER 3.52). Sektornya siklikal. Dalam uji 2020–2026, emiten siklikal yang laba YTD-nya turun ≥30% justru mengalahkan pasar +14,1% setahun berikutnya — 66% dari 211 kejadian. Laba anjlok di sini biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan.
Laba YTD Q2 2026 Rp625.8 M, turun 62% dari Rp1.7 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 37%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp20.2 M, turun 58% dari Rp47.9 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih turun 4%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.50x).
Laba YTD Q2 2026 Rp8.5 M, turun 54% dari Rp18.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 32%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp17.2 M, turun 53% dari Rp36.4 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 3%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.80x).
Laba YTD Q2 2026 Rp603.9 M, turun 53% dari Rp1.3 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 26%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.31x).
Laba YTD Q2 2026 Rp15.7 M, turun 48% dari Rp30.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 0%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.31x).
Laba YTD Q2 2026 Rp88.0 M, turun 48% dari Rp169.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 14%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.97x).
Laba YTD Q2 2026 Rp10.8 M, turun 46% dari Rp20.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 218%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.55x).
Laba YTD Q2 2026 Rp18.9 M, turun 46% dari Rp35.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 14%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.64x).
Laba YTD Q2 2026 Rp297.3 M, turun 46% dari Rp546.0 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 43%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp333.7 M, turun 44% dari Rp600.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatannya ikut turun 20%, jadi penurunannya menyeluruh — bukan cuma soal biaya atau pos sekali jalan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp173.1 M, turun 40% dari Rp288.6 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih turun 9%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp332.4 M, turun 34% dari Rp503.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih turun 7%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Perlakukan angka pendapatannya dengan hati-hati: di sektor keuangan dan perusahaan investasi, laba bisa berayun besar karena penilaian ulang portofolio atau pencadangan — bukan karena kegiatan usahanya membaik atau memburuk. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.46x).
Laba YTD Q2 2026 Rp3.7 T, turun 33% dari Rp5.5 T periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih naik 11%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian.
Laba YTD Q2 2026 Rp30.6 M, turun 32% dari Rp45.1 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih turun 10%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Di non-siklikal, laba turun ≥30% rata-rata berakhir setara pasar (median −0,2%) — belum cukup jadi alasan apa pun sendirian. Harganya di bawah nilai buku (PBV 0.34x).
Laba YTD Q2 2026 Rp439.1 M, turun 30% dari Rp629.5 M periode yang sama tahun lalu. Pendapatan masih turun 9%, jadi yang tergerus margin atau biaya, bukan permintaan. Sektornya siklikal. Dalam uji 2020–2026, emiten siklikal yang laba YTD-nya turun ≥30% justru mengalahkan pasar +14,1% setahun berikutnya — 66% dari 211 kejadian. Laba anjlok di sini biasanya menandai dasar siklus, bukan kerusakan.